Pulau Pisang, Tempat Terindah Untuk Mengobati Gundah

Pulau Pisang Pesisir Barat Lampung - Sebuah pulau cantik, yang menyimpan sejuta pesona, cocok bagi anda yang ingin menghilangkan gundah gulana. Keindahannya nyata, bukan rekayasa, apalagi cuma sekedar tipuan lensa kamera semata.

foto pulau pisang
Keindahan Pulau Pisang begitu nyata

Apa yang tergambar di foto-foto yang bertebaran di dunia maya, di media sosial yang banyak gaya, miring sini miring sana, jepret sini jepret sana, semuanya betul-betul eksotisme ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, karya indah nan agung tiada duanya.

Iya, semuanya nyata, bukan fatamorgana. Kalau kata Syahrini, cetar membahana. Tapi kalau kata saya, Indahnya nyata, tidak bisa diwakili oleh kata-kata, meskipun kata-kata seorang pujangga paling masyhur sekalipun.

Tidak percaya?


Silakan saja berkendara dari Tanjung Karang Bandar Lampung melewati Jalur Lintas Barat Sumatera, melewati Gedong Tataan, Pesawaran, Pringsewu, Gisting, Kota Agung, Wonosobo, Tanjakan Sedayu, Bengkunat, dan akhirnya Krui.

Setelah sampai di Krui, naiklah perahu, menuju Pulau terindah di Provinsi paling selatan di Pulau Sumatera, nikmatilah goyangan ombaknya, tak perlu khawatir, ada life jacket untuk keselamatan anda. Dan jangan kaget, lumba-lumba akan menyambut kedatangan anda menuju Pulau Pisang yang mempesona.

Bukan cuma satu atau dua lumba-lumba, tapi ratusan lumba-lumba siap menyambut tamu-tamu yang ingin mengunjunginya. So, terlalu sayang untuk dilewatkan bukan? Melihat langsung kawanan hewan laut cantik yang menjadi sahabat manusia.

Jika ditempuh dari Krui, waktu perjalanan memang lebih lama, yaitu sekitar 45 menit s.d. 1 jam berada di tengah laut menggunakan perahu nelayan. Tapi, dari Krui inilah anda bisa menikmati segerombolan lumba-lumba melompat-lompat mengikuti gerak perahu motor anda.

Waktu terbaik untuk melihat lumba-lumba ada di musim ikan tongkol. Kemungkinan besar anda bisa menikmati lumba-lumba di musim ini.

Untuk penyeberangan dengan waktu yang lebih singkat, anda bisa menggunakan penyeberangan dari Tebakak, sekitar 30-40 menit perjalanan dari Krui menggunakan mobil.

Dari Tebakak ini, penyeberangan ke Pulau Pisang dapat ditempuh dengan waktu yang lebih pendek, sekitar 10-20 menit saja, tergantung cuaca dan ombak.

Kapal Penyeberangan memiliki jadwal sehari 2 kali, yaitu pukul 8 pagi dan 2 siang. Jika tidak kebagian kapal penyeberangan, anda harus menyewa kapal sendiri untuk menuju ke Pulau Pisang.

Waktu tempuh, dari Bandar Lampung menuju Krui sekitar 6 jam perjalanan, bisa kurang bisa lebih tergantung kecepatan mobil.

Agak jauh memang, tapi banyak juga wisatawan asing yang berkunjung ke Krui meskipun lokasinya jauh dari pusat kota.

Mengenal Pulau Pisang


Pulau Pisang, sebagai satu-satunya pulau berpenghuni di Pesisir Barat Lampung, merupakan salah satu destinasi wisata yang sedang naik dauin. Saat saya naik taksi dari Bandara Soekarno Hatta Tangerang menuju Jakarta, di sebelah kiri Jalan Tol saya melihat ada sebuah iklan besar bertuliskan "Pulau Pisang Pesisir Barat Lampung".

Ternyata Pulau Pisang benar-benar dipromosikan oleh Provinsi Lampung sebagai salah satu wisata unggulan selain Pulau Pahawang dan Teluk Kiluan.

Keberadaan Pulau Pisang sebagai wisata unggulan sangat layak dipilih mengingat pulaunya memang betul-betul indah, meskipun lokasinya memang cukup jauh dari Ibu Kota Provinsi Lampung.

Kelebihan Pulau Pisang, selain wisatawan dapat berkunjung ke pulau ini, wisatawan juga dapat menikmati pantai-pantai cantik lainnya di Krui seperti Pantai Labuhan Jukung dan Pantai Tanjung Setia yang merupakan spot favorit wisatawan asing untuk berselancar.

Pulau Pisang memiliki luas sekitar 200 hektar dan terdiri atas 6 pekon/desa. 3 Desa ada di bawah sedangkan sisanya naik lagi ke bukit, di tempat yang lebih tinggi.

Kegiatan utama warganya adalah nelayan, berkebun cengkeh, dan pengrajin tapis pulau pisang serta sulam emas. Warga Pulau Pisang merupakan warga pesisir asli yang masih menjaga kelestarian adat Lampung.

Bahasa keseharian mereka adalah Bahasa Lampung. Namun, mereka juga tetap fasih menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan bangsa.

Masyarakat Pulau Pisang terkenal dengan keramahannya sehingga wisatawan pun merasa betah untuk berkunjung ke sini. Berkali-kali mengunjungi Pulau Pisang pun tak akan pernah bosan, seperti ceritanya Om Yopie, seorang penjelajah Lampung sejati.

Pulau Pisang juga tidak jauh-jauh dari jaman Kolonial Belanda. Beberapa bangunan tinggalan Kolonial Belanda masih dapat kita jumpai sampai saat ini.

sd negeri pasar pulau pisang
SD Negeri Peninggalan Belanda

Yang pertama ada sebuah SD Negeri yang bangunannya masih asli tinggalan jaman kolonial. Wisatawan yang datang ke sini ternyata tidak hanya bisa menikmati wisata bahari, tetapi bisa juga menikmati wisata sejarah yang memukau.

Yang kedua ada mercusuar peninggalan Belanda. Benda-benda bersejarah ini masih terjaga di Pulau Pisang Pesisir Barat Lampung.

Wisatawan juga bisa melihat-lihat rumah-rumah besar yang kosong tidak berpenghuni, bekas rumah yang pernah ditinggali oleh Bapak Taufik Kiemas, mantan Ketua MPR dan suami dari Bu Megawati, kapal karam, dan tentunya melihat secara langsung aktivitas masyarakat Pulau Pisang.

Pasir Putihnya Lhoooo


Di dekat Dermaga Pulau Pisang, wisatawan bisa menikmati keindahan hamparan pasir yang cuantik. Pasir putihnya lembut, halus, dan sangat bersahabat untuk kaki-kaki telanjang. Hamparan pasirnya terbentang memanjang sepanjang pantai, begitu indah di waktu sore.

pasir lembut pulau pisang
Surga dunia di Pulau Sumatera

Wisatawan yang membawa anak kecil, tetap harus memperhatikan anaknya, karena ombak di Pantai ini memang bisa tinggi, yang merupakan ombak lautan Samudera Hindia.

Di Dermaga ini, wisatawan juga bisa melakukan aktivitas snorkling, loncat dari dermaga lalu nyebur ke laut, latihan surfing, dan tiduran di pantai menikmati sunset atau sunrise.

Ada tempat khusus bagi wisatawan yang mau snorkling, dengan pemandangan biota laut yang indah.

Wisatawan yang tidak ingin menginap di homestay, penginapan, atau rumah warga dapat membawa tenda camping, lalu mendirikan tenda di pantai ini. Enak sekali, menikmati pantai di malam hari, sambil bakar-bakar ikan yang bisa dibeli dari warga setempat dengan harga yang murah.

Ikan di Pulau Pisang bisa didapatkan dengan mudah mengingat warga Pulau Pisang banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Ikannya tentu saja masih segar, tanpa bahan pengawet.

Selain menikmati pasir putih di Dermaga Pulau Pisang, jangan lewatkan untuk berkeliling Pulau Pisang dengan menyewa motor warga setempat. Tarif sewa motor sekitar 50 ribu rupiah per hari.

Kalau jalan kaki berkeliling pulau pisang sepertinya terlalu capek, dengan luas pulaunya yang mencapai 200 hektar.

Perkiraan Biaya


Jika berangkat ke Pulau Pisang menggunakan kendaraan umum, rincian biaya dari Bandar Lampung kurang lebih:
  1. Transport dari Bandar Lampung ke Krui/Tembakak:
    • Sewa Mobil: sekitar 250.000/hari.
    • Naik bus Rajabasa-Krui atau Naik Travel sekitar Rp100.000,-.
  2. Perahu Penyeberangan ke Pulau Pisang:
    • Ikut Jadwal Kapal Penyeberangan (pukul 8 pagi dan 2 siang): Rp15-20 ribu sekali berangkat.
    • Sewa kapal sendiri: Rp400-700 ribu PP.
  3. Homestay: Rp150ribuan.
  4. Makan: sekitar Rp15.000,- s.d. Rp20.000,- sekali makan (relatif).
  5. Sewa motor di Pulau Pisang: Rp50.000,- per hari.
  6. Biaya penitipan mobil di Dermaga Tebakak/Krui jika membawa mobil sendiri: sekitar Rp50.000,- per hari.

Sampai saat ini, Listrik masih belum menjangkau masyakarat Pulau Pisang. Kebutuhan listrik sementara dipenuhi dengan menggunakan genset, dan biasanya hanya hidup sampai pukul 11 malam, selebihnya menggunakan penerang seadanya.

Sinyal juga masih agak susah, jadi jangan kaget saat berkunjung ke Pulau Pisang ini. Fasilitas masih agak terbatas, tapi sebenarnya di situlah letak sensasi wisata di Pulau Pisang ini, tidak terlalu terbawa arus teknonologi.

Fasilitas penginapan di Pulau Pisang juga jangan berharap untuk seperti fasilitas seperti di hotel-hotel ya. Semuanya terlihat masih sederhana.

Bagaimana, siap untuk ke Pulau Pisang yang indah ini? Yuk nabung dari sekarang kalau belum ya.

0 komentar